Selasa, 23 Februari 2010

Malam Dan Sekutunya

Mega telah memudar dalam peraduan senja.
Mata-mata lelah beradu dalam kegamangan malam.
Tak ada suara lagi.
Mata-mata telah mengatup, terlelap.
Masih terpojok pada sudut malam, aku dengan sejuta kebisuan.
Suasana-suasana seperti ini, yang dulu selalu kurindukan.
Dengan sejuta ketenangn yang ku maknai dari segala keheningan ini.

Kini..
Aku seperti tak bisa memeluk malamku.
Tak bisa merengkuh ketenangn yang sekian lama kurasakan.
Malam yang sepi kini untukku..
Aku membenci malam-malam yang menyiksaku dengan segala ketidakadaan.

Tuhan, berilah kesejukan untuk jiwa-jiwa haus kasih.
Berilah ketenangan untuk hati-hati yang sepi..
Seperti aku yang bagai terdampar dalam malam yang panjang ini.
Lalu kucoba melelapkan mata..
Aku menanti detik demi detik mentari kembali bersinar...

Rabu, 14 Oktober 2009

Sebait Sajak Di Antara Untaian Debu

Aku menemuimu
Di sisi badai dan kekelaman kabut
Lalu kita bercerita
Tentang seberapa tebal debu yang menghujam tubuh

Rongga ini hanyalah sebuah ruang
Yang kadang memompa hati kita di persimpangan
Mencoba mengejar bait-bait mimpi
Walau kadang itu hanyalah sebuah fakta fatamorgana

Lalu akan kubasuh sayatan-sayatan dukamu
Lewat tatapan mata dan sebidang bahu
Yang dapat kau singgahi
Meski terkadang kita lupa
Kekelaman adalah sebuah batu cadas
Untuk menempuh kemaknaan hidup

Akhirnya...
Bersabarlah kita
Menyusuri telapak-telapak kehidupan
Yang pernah kita bersama memahatnya

Malam memekat
Hanya segaris bayang mengaburkan pandangan
Kaupun tertidur
Dalam damai dan ketenangan di sisi pembaringanku

Membakar Surga, Menghanguskan Neraka

Aku ingin bersujud kepada-Mu dengan penuh linangan kalbu
Menebarkan pancaran suci yang memancar dari relung jiwa yang terdalam

Wahai Sang Maha Pencipta Mayapada
Mengapa Kau menghadirkan keindahan tak terkira dalam surga?
Mengapa Kau menajamkan kepedihan tak terperi di neraka?
Karena semua itu membuat manusia berpamrih

Aku di sini duduk bersimpuh pada_mu
Aku di sini menyembah membumbungtinggikan Nama-Mu
Aku di sini (masa lalu, saat ini, dan hingga akhir hayat)
Aku selalu melakukan perintah-Mu dengan sesempurna sebuah untaian ketulusan

Maka jika aku boleh memilih
Akan membakar surga
Akan kuhancurkan neraka
Agar kami bertaqwa kepada-Mu tanpa belasan pamrih

Mungkin Kau tertawa melihatku
Yang hanya memiliki secipak bening genangan sukma
Dan semoga lafadz salam penutup doaku
Berhembus bersama helaian angin semilir

Rabu, 01 April 2009

Tertikam Sunyi

Aku mencari ruang
Pada sebuah harap yg tersesat
Mencari tempat berlabuh
Kala penat dan letih mulai menyumbat

Asa ku merentang
Bersama sayap - sayap yang terkadang terkepak
Mencari sebening celah sabda cipta
Membawa nya menyusuri setapak jalan yang terlewati

Jenuhku memenuhi puncak
Bosan ku menjulangi pendar pendar mentari
Dan saputan awan mendung
Memekatku dalam puncak kesunyian

Tapi Mengapa
Aku masih saja merasakan sepi di tengah kegaduhan
Aku masih saja merasakan sunyi di tengah keramaian

Teriakanku membumbung tinggi
Hingga sebatas nadir batas kemampuan
Mencoba mendulang dogma
Merangkai kegalauan dengan dengungan rasa

Tapi Mengapa
Aku masih saja merasakan sepi di tengah kegaduhan
Aku masih saja merasakan sunyi di tengah keramaian

Malam memekat
Teriakan ku pun ter cekat
Sebuah tangan mengambil pelepah tempat ku berteduh dari tetesan hujan

Tak ada yang mau perduli
Tak ada yang mau mengerti

Sepi ....
Sendiri .....
Tertikam sunyi ...



seindahtitianpelangi,

Secuil Hasrat Yang Pernah Tersirat

Perjalananku tertatih
Tersumbat bayang sekelimang peneruh asa dan hasrat metafora
Dudukku terpekur
Melihat seolah dinding yang berjelaga
Amarah yang terlantar
Kesepian yang menghujam
Para munafik yang memuakkan
Di antara hamparan safana rerumputan
Kuambil sejumput jerami
Menjuntarkan khayal tentang secuil kisah masa silam
Kata ibunda menyelimutiku dengan selimut penghangat badan
Dan kedinginan sebelum aku terpejam
Mungkin hanya baitan kenangan
Akan keharuan dan tapak tulus kasih saying
Trulur murni tanpa dinding pembatas
Menghadir indah menembus dinding nurani
Sejauh mata memandang
Hanya ada tepisan nisan yang telah
Yang menorehkan sebuah nama seseorang
Yang telah memjam abadi
Akhirnya kulangkahkan kaki
Meninggalkan areal sunyi sepi ini
Namun entah sampai kapan
Kerinduan ini akan menghilang dalam titian jiwa
Dan linangan perasaan yang tergenggam

Jakarta, 26 November 2007
Di sebuah kesunyian areal pemakaman

seindahtitianpelangi

Sebait Kenangan Di Secarik Kertas Bangku Belakang

Sebuah tabir kenangan pernah tersibak
Melewati padanan waktu
Kita saling mencoba meremang senja
Melewati masa - masa terindah di bangku SMA

Aku mengenalmu
Lewat secarik kertas yang tertinggal di bangku belakang
Lalu kita saling merangakai baitan kata
Melawati bahasa hati belahan jiwa

Rasa itu kemudian mendekam di lubuk sanubari
Mengkristal hingga ke tepian jantung hati
Menaburkan selaksa warna titian pelangi
Membumbung tinggi hingga mencapai ujung pertiwi

Tapi mengapa ......
Kau masih saja ragu denganku
Kau masih saja menimang - nimang sebait nilai ketulusan
Hingga ku terkekang dalam penantian yang tak terujung terbataskan

Waktupun bergulir
Letih dan penat dalam penantian
Ku terima seseorang yg menebar asa dan buih - buih rasa
Walau sebenarnya hanya sekedar pengisi sebuah rongga kosong di jiwa ku

Wahai kau seorang yang selalu ku rindukan di setiap ketinggain malam ku
Ijinkanlah aku memasuki puri terdalam hati mu
Bersama kita menanam benih bulir bulir asmara
Hingga tumbuh pohon keabadian dari kemurnian cinta kita



seindahtitianpelangi,

Ruang Putih Penghadir Gelegar Deru KEharuan Dan PEdihnya Rasa KEhilangan

Lorong ini memanjang
Ujung berliku bertitian bangku-bangku kosong
Puncak dari kesunyian rasa menyeruak
Hadir menjelma tulus nyata sesucinya bayi pertama kali melihat pendar mentari

Di sebuah sudut ruang
Lolongan nestapa perih pedih penuh tangis kesenduan
Jalanan samara penghantar nyawa yang terengut si sakit
Entah surga penuh pendar-pendar warna sastra jingga terdapati
Entah neraka terhunjam perih terilhami
Itu semua rahasia Ilahi Robbi

Di sudut lain
Tangisan haru memuncak lewat lelehan sebening telaga di tepian kelopak mata
Mengiringi kehadiran suara tangis pertama kali dari kelahiran bayi
Kebahagiaan menyembur seindah siluet senja yang menyepuh rarakan mega menjadi magen
Di pilahan ruang yang berjarak
Tatapan penuh harap tersirat lewat kesenduan pandangan
Memandang pembaringan si sakit yang menempuh perjuangan
Walau kadang itulah kodrat manusia yang ternafikan

Sedu sedan warna warni rasa
Pedih perih, suka duka, derai tawa dan pandangan penuh simpati
Hadir menjelma nyata sesuci ini di ruang ini
Mengilhami pemahaman manusia akan sebuah jalur lurus keimanan
Bahwa sepanjang kuat manusia berusaha berjuang tetap Sang Khalik yang menentukan saat-saat menuju keabadian


Rumah Sakit Pondok Indah pukul 20.30 WIB
Jakarta, 24 Desember 2007

seindahtitianpelangi